Mengenal Manusia Melalui Perjalanan Keliling Dunia

24 06 2008

*Resensi Buku*

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pesta Buku Jakarta 2008*

Judul Buku Perjalanan Spiritual; Dari Gumujeng Sunda, Eksistensi Tuhan, sampai Siberia
Kategori Non-Fiksi
Tema Filsafat, Theologi, Budaya, Sejarah, Sosial, Geografi, Pariwisata dll.
Penulis Martinus Antonius Weselinus Brouwer (Pater Brouwer)
Tahun Terbit 2003
Penerbit Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tebal 254 + xviii halaman
Dimensi 14 x 21 cm
ISBN 979-709-052-3
Waktu Baca + 6,5 jam

Buku “Perjalanan Spiritual” mempunyai desain sampul yang menarik, berlatarbelakang warna kuning dan bergambarkan beberapa ilustrasi landscape dunia yang seolah-olah dilukis menggunakan cat lukis. Font yang dipakai untuk menuliskan judul buku-pun merupakan font dekoratif yang jauh dari kesan serius, malah lebih berkesan childish, mirip font dekoratif lain seperti Comic Sans MS atau SmackAttack BB.

Persepsi pertama yang saya dapatkan dari desain sampul seperti ini adalah ‘keceriaan’ atau ‘kejenakaan’. Sehingga, sebelum membaca satu kalimat pun di buku ini, sempat muncul persepsi pribadi bahwa “Perjalanan Spiritual” adalah buku berjenis travelogue, semacam diari tur wisata keliling dunia, yang dikisahkan penuh keceriaan dan kegembiraan.

Tapi… Seperti kata Tukul, “Don’t Judge a Book by it’s Cover, Rolling Door”. Ya, jangan menilai buku dari sampulnya! Sampulnya memang memberikan kesan kejenakaan, seolah-olah ini adalah buku cerita ceria yang bisa dijadikan dongeng pengantar tidur. Tidak seperti itu. “Perjalanan Spiritual” sebenarnya adalah sebuah buku yang “semi-berat” (kalau tidak ingin disebut buku “berat”), dipenuhi muatan psikologis, filsafat, juga pesan moral. Diperlukan sedikit pemikiran untuk membaca dan memahami pesan yang disampaikan.

“Perjalanan Spiritual” ditulis oleh M.A.W Brouwer alias Pater Brouwer (Alm.). Ia adalah seorang putra Belanda yang separuh hidupnya dihabiskan di Indonesia. Bukunya ini berisi kumpulan catatan tentang perjalanan beliau ke berbagai kota di Dunia (termasuk Bandung, yang menjadi starting point-nya). Uniknya, Pater Brouwer tidaklah bercerita tentang keadaan atau keindahan dari tempat yang ia kunjungi. Ia justru bercerita tentang pertemuannya dengan berbagai jenis manusia dari berbagai unsur budaya, lingkungan, dan kebiasaan, yang tentunya memiliki keunikan sendiri-sendiri di tiap kota yang ia singgahi.

Contohnya, di bab “New York” (bab ke-7), Brouwer tidaklah bercerita mengenai gemerlapnya kehidupan metropolitan di hutan beton itu. Ia justru menceritakan perbincangan akrabnya di sebuah bis, dengan seorang ibu Yahudi, mengenai theologi serta perbandingan antara agama yang dianut Brouwer (Katholik) dan agama Yahudi. Contoh lainnya, di bab “London” (bab ke-9), alih-alih bercerita tentang keindahan ibukota Inggris itu, Brouwer malah menceritakan budaya sex unik di kalangan pasangan-pasangan menikah di kota tersebut.

Intinya, melalui kisah-kisah dalam buku ini, Brouwer mencoba menunjukkan kepada pembaca tentang ‘ke-khasan’ atau keunikan yang seringkali tidak pernah kita ketahui. Tak jarang dari kisah-kisah tersebut akan muncul suatu hikmah, pengetahuan, pola pikir, cara pandang, atau pemahaman baru yang bisa dipetik oleh pembaca.

Melalui buku ini, saya jadi mengetahui, bahwa perpecahan agama Islam menjadi aliran Sunni dan Syi’ah ternyata awalnya disebabkan oleh permasalahan politik. Saya juga jadi mengetahui, bahwa negara Jepang yang sangat maju itu, ternyata dipenuhi juga oleh orang-orang pesimis. Referensi pemahaman saya terhadap konsep Ketuhanan pun jadi bertambah, setelah mengikuti perbincangan Brouwer dengan seorang dosen theologi di Universitas della Citta, Padua, Italia.

Wah, pokoknya™ banyak deh pengetahuan baru yang bisa Anda dapatkan melalui buku ini, mulai dari Agama, Geografi, Pariwisata, Ekonomi dll.

Struktur Kalimat

Nah, yang ini saya tidak tahu, apakah karena jiwa sastra saya yang begitu miskin, atau memang seperti inilah gaya penulisan dari seorang Pater Brouwer. “Perjalanan Spiritual”, banyak ditulis dengan gaya bahasa yang mungkin bagi para sastrawan terasa indah, tapi bagi saya, gaya bahasa seperti itu awal-awalnya justru malah agak membingungkan.

Contohnya nih, di bab ke-22, “Kaum Wanita di RRC”, halaman 187, paragraf ke-3, tertulis seperti ini,

“Dogma Kung Futze hormatilah dan asuhlah orangtuamu masih pegangan kuat bagi tua dan muda”.

Bagi saya, kalimat itu akan lebih ‘enak’ dibaca bila penulisannya seperti ini,

“Dogma Kung Futze yang berbunyi “hormatilah dan asuhlah orangtuamu”, masih menjadi pegangan yang kuat bagi kaum tua dan kaum muda di RRC.”

Masih banyak kalimat-kalimat lain yang strukturnya tidak baku. Selain itu, beberapa malah berbentuk kiasan yang agak sulit dimengerti, seperti di bab 8, “San Fransisco”, halaman 54, paragraf 2,

“Sang walikota gemuk seperti babi. Kalau kentut kamar penuh uap yang berwarna hijau. Dia seorang bangsat yang ulung yang meskipun dulu naik tahta dengan membunuh, sekarang hampir tidak bisa jalan karena pakaiannya dari sutra dan beludru begitu banyak, sehingga kalau dia omong suara berbunyi seperti sapi yang sakit flu.”

Bila Anda membaca buku ini, mungkin diperlukan beberapa waktu (dan beberapa bab) supaya terbiasa dengan gaya penulisan Brouwer (itulah sebabnya saya membaca ulang beberapa halaman sebelum menulis resensi ini. :mrgreen:

Kesimpulan

Secara keseluruhan, “Perjalanan Spiritual” adalah sebuah buku yang menarik, karena buku ini mengajak kita untuk menjelajahi beragam keunikan budaya dan kehidupan dari makhluk bernama manusia di berbagai belahan Bumi ini. Saran saya, bacalah dengan santai dan nikmati gaya penceritaan Pater Brouwer, kemudian ambillah pengetahuan atau hikmah yang selalu tersirat di setiap kisahnya. :D


Tindakan

Information

8 tanggapan

24 06 2008
Aki Herry

Gaya menulisnya orang baheula kali ya..

24 06 2008
BayuHebat

sisi lain dari jalan – jalan melihat keunikan dari keunikan.

25 06 2008
ipk4cumlaude

Ini terjemahan apa dia yg nulis langsung dalam Bahasa? Kalau terjemahan biasanya si penerjemahnya yg kurang ahli. Buku bagus dalam bahasa asli menjadi kehilangan esensi dan keindahan sastranya setelah diterjemahkan. (Wuih, gayanya kayak ahli sastra aja.) Karena itu, saya jadi agak males kalo beli buku/novel terjemahan.

salam kenal kang

27 06 2008
GiE lagi dapet BLE

Iya nih, kliatanny itu novel/buku merupakan terjemahan asing ya..?

hmm… *mikir keras*

Eh, penjem bukuna atuh? :lol:

5 07 2008
Fajar GM

@Aki
Sepertinya iya juga, soalnya ini memoir perjalanan dari tahun 70 – 80an.

@Bayu
Ya betul, tidak sekedar jalan-jalan. :D

@ipk4cumlaude
Awalnya saya juga curiga ini terjemahan. Tapi setelah lihat di halaman awalnya, ternyata enggak tuh. Ini hanya diterbitkan di Indonesia.

@GiE
Ini juga dapet minjem. :mrgreen:

22 11 2008
kadek

makasih untuk review nya, kebetulan lagi cari referensi mau beli buku ini atau gak. makasih ya. ^^

22 11 2008
Fajar GM

Sama-sama :D

6 01 2009
J-spot

Wah asyik gaya penulisannya. Semakin pingin mengenal M.A.W. Brouwer. Thanks n salam kenal..

Tinggalkan sebuah tanggapan