*Resensi Buku*
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pesta Buku Jakarta 2008*
| Judul Buku | The Madness of God/Iblis Menggugat Tuhan |
|---|---|
| Kategori | Fiksi |
| Tema | Agama, Filsafat, Theologi |
| Penulis | Da’ud Ibn Ibrahim Al-Shawni |
| Tahun Terbit | 2003 |
| Penerbit | Dastan Books |
| Tebal | 340 halaman |
| Dimensi | 11,5 x 17 cm |
| ISBN | 979-3972-01-X7 |
| Waktu Baca | *Tidak dihitung* |
Kita semua tahu, bahwa menurut Al-Qur’an, Tuhan menciptakan Adam dari tanah liat kering dari lumpur hitam. Setelah diberi nyawa, maka Tuhan memerintahkan semua makhlukNya untuk bersujud dalam rangka menghormati Adam. Berikut adalah petikan kisah penciptaan manusia pertama itu, yang dikutip dari Al-Qur’an Q.S. Al-Hijr 15: 29-34,

“Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Maka bersujudlah Para Malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.
Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”. Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.
Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. […] (QS. Al Hijr 15: 29-35)” (Klik di [sini] untuk membaca surat ini selengkapnya).
Ya, setelah manusia pertama itu diberi ruh, semua malaikat pun bersujud menghormatinya. Tapi tidak sama halnya dengan iblis. Menurut ayat di atas, ia sama sekali tidak sudi untuk sujud kepada makhluk yang yang baru saja diciptakan itu. Iblis terbuat dari api, sedangkan manusia terbuat dari tanah. Itu sebabnya ia merasa lebih tinggi dari manusia, dan bersikap sombong dengan tidak bersujud menghormatinya.
Tuhan pun mengutuknya, ia keluar ditendang dari Surga, kemudian mempunyai misi untuk menggoda manusia hingga akhir zaman. Iblis, dari yang tadinya makhluk penuh ketaatan dan paling getol beribadah, berubah menjadi makhluk paling terkutuk dan ternistakan, yang setiap harinya terus dikutuki oleh manusia. Semuanya hanya dikarenakan sikap keras kepalanya yang membuat ia tidak sudi bersujud pada Adam.
Tapi, benarkah demikian adanya? Maksudnya, benarkah iblis -yang kedudukannya hanya ‘makhluk’- bisa menentang perintah Tuhan sang pencipta, Yang Maha Kuasa itu?
Jawaban dari pertanyaan itulah yang coba dibahas oleh Al-Shawni dalam bukunya “Iblis Menggugat Tuhan” ini. Sang penulis mengkritisi tentang cerita pembangkangan iblis kepada Tuhan, saat ia tidak sudi bersujud pada Adam. Menurut Shawni, seorang iblis yang kedudukannya hanya makhluk, tidaklah mungkin untuk berkemampuan menentang kehendak sang maha pencipta yang agung.
“Iblis Menggugat Tuhan” bisa disebut semacam buku novel. Tapi buku ini justru tidak memfokuskan diri pada jalan cerita, selayaknya novel. Buku ini ingin menyampaikan isinya melalui perbincangan para tokohnya. Jadi melalui perbincangan-perbincangan itulah pembaca akan mengerti apa yang hendak disampaikan oleh sang penulis.
Salah satu perbincangan itu terjadi antara Buhairah, seorang pendeta nasrani dengan sang iblis sendiri. Alkisah, sang pendeta yang sedang mengalami kegelisahan spiritual, bertemu dengan Rasulullah Muhammad SAW kecil, yang saat itu belum menjadi nabi. Ia tertarik dengannya. Buhairah merasa, bahwa Muhammad SAW memiliki tanda kenabian sebagaimana yang diramalkan oleh kitabnya. Ia akhirnya berbincang-bincang panjang dengan Muhammad SAW, hingga Muhammad SAW mengajaknya ke suatu tempat terpencil, di mana Buhairah bertemu dengan sang iblis.
Disinilah inti dari buku ini dimulai, Buhairah berbincang-bincang dengan iblis, sambil terus mengutukinya karena ia-lah penyebab manusia tergelincir dalam dosa. Tapi sang iblis tetap dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Buhairah dengan tenang, bahkan cenderung berada di pihak yang benar.
Melalui perbincangan Buhairah dan iblis ini, sang pengarang (Shawni) nampaknya sedang ‘membela’ dan ‘memenangkan’ iblis. Iblis bahkan digambarkan sebagai makhluk yang disayangi Tuhan, karena berkat bantuannya (godaan & ajakan untuk berbuat sesat kepada manusia), Tuhan dapat menguji kadar keimanan manusia. Shawni mencoba untuk mengkritisi semua stigma negatif yang selama ini selalu dilekatkan pada diri iblis. Setelah membaca buku ini, pembaca mungkin akan memiliki pandangan yang baru terhadap kedudukan iblis. Tapi bukan berarti bahwa kita jadi harus bersimpati padanya, karena ia tetap makhluk terkutuk sebagaimana yang dituliskan dalam Al-Qur’an.
Buku ini harus dibaca dengan hati-hati dan dengan pikiran terbuka, agar pembaca dapat menangkap makna dan esensi sebenarnya dari apa yang ingin disampaikan oleh si penulis. Bila esensi itu dapat kita ambil, kita malah akan semakin meyakini, bahwa di dalam tragedi ketergelinciran iblis itu, Tuhan menunjukkan sifat-sifat keesaan, kemahakuasaan dan keadilanNya.



















Ah, gimanapun juga kerjaan iblis di dunia mah teteup aja ngerayu manusia untuk berbuat mungkar…
Eh, bukuna bukan buku baru ya?
wah jadi inget kata guru saya loh. katanya ujian itu ada karena kita harus naik tingkat. jadi Iblis itu sebenernya ‘menguji’ apakah kita sanggup untuk naik tingkat.
hehehehheehe ceritanya kayanya seru. Bisa jadi kontroversi nih
Asal ga diikutin fatwa mati apa acara bakar buku aja nta, yak
hmm kereen, bacanya harus dengan hati yg lapang dan pemikiran yang lebih terbuka.
pengen euy, eh BTW, cantumin dunk harganya…
Iya, fast reader harus bertobat dari sekarang kalau mau baca ni buku. hauhauha lagipula mereka paling mengeneralisasikan dengan hanya melihiat judul bukunya “Iblis” lalu berpikir “oh buku ini ttg iblis berari buku ini jahat” wkwkkw..
@GiE
Buku tahun 2003, tergolong baru.
@Bayu
Bisa juga, kita ini sedang diuji untuk masuk ke tahapan kehidupan selanjutnya.
@hariadhi
Buku-buku kayak gini sih enggak diributin. Kalo majalah playboy, baru diributin.
@hevi.fauzan
Harganya kalo gak salah (berarti bener) sekitar 20ribuan. Saya beli di toko buku diskon di jalan Supratman.
@DensS
Haha, emangnya blog, ada fast reader.
Iblis mengugat tuhan gak salah tuu, iblis dihukum gara-gara kesombongannya dan kemalasannya untuk taat mudah-mudahan gak ketularan penyakitnya.
waduh bs jd penyesatan iman nih…hati-hati
Iblis tidaklah sombong, jangan berprasangka buruk dulu kepadanya…!!!!!
apa kalian tahu asal usul iblis dan siapa dia sebenarnya???????
tolong telaahi dulu dengan benar dengan menggunakan berbagai sumebr, majhab dan tafsir, apakah benar iblis itu benar2 salah?!
TANPA IBLIS MAKA TAKKAN ADA PEMBANDING ANTARA YANG BAIK DAN YANG JAHAT, DAN TAKKAN ADA SURGA DAN NERAKA…..
Siapa yg sombong? Iblis atau kalian?????????
“sesungguhnya “kami” hanyalah menjalankan perintah yang telah diberikan kepada kami, cuma kalian yang lemah akan iman kalian sendiri. Bukankah Tuhan telah mengajarkan kepada kalian yang mana yang baik dan yang mana yang benar melalui Nabi dan rasul serta orang2 yang shaleh diantara kalian”